Ibadah Umroh untuk meningkatkan keimanan

Nikmatnya Umrah Ramadhan

Haji dan Umrah

Rukun Islam ke-5 adalah menunaikan Ibadah Haji di tanah suci, Makkah. Ibadah Haji harus dilaksanakan pada waktunya yaitu di Bulan Dzulhijjah rangkaian ibadahnya dimulai dari ber-ihram, tawaf, sai, tahalul (rangkaian I disebut Umrah) kemudian wukuf di Arafah, Mabit di Mudzdalifah, Mabit di Mina, melontar jumrah, tawaf ifadah dan tawaf wada (rangkaian II disebut Haji). Mendahulukan Umrah daripada Haji dinamakan Haji Tamattu, ini lazim dipilih oleh kebanyakan calon jamaah Haji Indonesia. Ibadah Umrah dan Haji pada bulan Dzulhijjah tidak dapat dipisahkan satu sama lain, keduanya merupakan satu kesatuan yang menentukan sah tidaknya Haji seseorang atau dengan kata lain tidak ada Haji kalau tidak berUmrah. Namun setelah kedua rangkaian Umrah dan Haji dilaksanakan, kita boleh melaksanakan Umrah beberapa kali dan hukumnya sunah. Ibadah Umrah juga bisa dilaksanakan pada bulan selain bulan Haji, hukumnya juga sunah. Dalam ibadah Umrah dan Haji diperlukan kesabaran dan keikhlasan dan hanya satu tujuannya yaitu mohon keridhoan Allah SWT.

Paket Umrah

Banyak paket Umrah yang ditawarkan biro perjalanan seperti Umrah Maulid, Umrah Ramadhan atau Umrah Liburan Anak Sekolah. Lamanya waktu perjalanan biasanya 9 hari (reguler), namun ada paket yang menawarkan Umrah plus Mesir, Umrah plus Turki atau misalnya Umrah plus Singapore/Kuala lumpur. Khusus untuk Umrah Ramadhan biasanya ada 3 pilihan Umrah awal Ramadhan, Umrah Pertengahan, Lailatul Qadar/Akhir Ramadhan plus Idul Fitri dan Umrah sebulan penuh. Lamanya Umrah Ramadhan bervariasi mulai 9 hari s/d 34 hari, kali ini kami memilih paket Umrah Ramadhan 15 hari.

Persiapan Umrah

Sebelum berangkat kami mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, melaksanakan kewajiban rutin sesuai tuntunan Islam, ber-olahraga dan menyiapkan perlengkapan secukupnya. Hal penting dan perlu dibawa adalah spidol permanent, isolasi/plak ban, pasta gigi kecil, sikat gigi, tas plastik/kresek, sajadah, 2 kaos, 3 baju taqwa, 3 celana panjang untuk shalat, 2 kopiah, qur’an kecil, sandal, sedikit pakaian dalam, sedikit uang rupiah, uang Saudi Riyal 100SR , 50SR, 20SR, 10SR, 5SR dan 1SR (1SR = 2.800 Rupiah). Untuk handuk terserah, mau bawa atau tidak karena pada umumnya disediakan hotel.

Sebetulnya untuk Umrah barang yang kita bawa tidak perlu banyak-banyak jadi secukupnya aja karena di Makkah dan Madinah banyak tersebar toko dan supermarket yang menjual aneka keperluan seperti di tanah air dan harganya tidak mahal. Tidak ada persiapan yang lebih penting selain Ikhlas, sabar dan taqwa karena semua itu yang akan menjadi landasan ibadah ini. Ingat !!! ini bukan pergi untuk wisata namun untuk ibadah dalam rangka menge-charge keimanan kita yang mungkin mulai low batt.

Berangkat Umrah

Memilih salah satu agen perjalanan Umrah dari Surabaya, kami membayar sekitar 2.200US$ untuk Umrah Ramadhan (berangkat 2 hari sebelum puasa). Harga tersebut termasuk Visa Umrah, akomodasi selama 15 hari, Airport handling, kain ihram, tas passpor, sabuk ihram, tas kecil, buku panduan Umrah, Flight Surabaya-Jakarta-Jeddah(pp), ziarah di Madinah-Makkah dan air zam-zam 5 liter.

Karena dah kenal baik dengan biro perjalanan, 2 minggu sebelum berangkat kami serahkan passpor yang masih berlaku minimal 8 bulan kedepan, Kartu Keluarga, KTP, Foto 3×4 dan 4×6 latar belakang putih (biasanya disebut foto Haji) dan sebagian uang boleh rupiah atau US$, kekurangannya saya lunasi di airport ketika mau berangkat. Karena kami berangkat dari Surabaya, kami pastikan perusahaan penerbangan domestiknya sama dengan perusahaan penerbangan Jakarta-Jeddah. Kenapa demikian, hal ini sangat memudahkan kita dalam hal bagasi dan tidak pindah-pindah Terminal di SOETA Cengkareng. Kalau pakai Garuda dari Surabaya maka bagasi langsung dilabeli tujuan Jeddah, kita hanya ambil bagasi tersebut nanti di Jeddah dan di Cengkareng tidak perlu pindah terminal.

Apabila jamaah Umrah banyak, misalnya lebih dari 50 orang, biasanya dari Surabaya ke Jakarta menggunakan beberapa penerbangan, karena dalam pesawat bercampur dengan penumpang biasa, tapi itu sangat tergantung dari jumlah jamaahnya. Di Cengkareng kami transit di salah satu waiting room hotel Bandara, disitu tersedia snack dan makan siang, tempat shalat dan dibekali manasik dari pembimbing Umrah. Disini juga kita melaksanakan shalat berjamaah Dhuhur dan Ashar di Jama’ Taqdim dan di-Qhasar. Menjelang keberangkatan kami melewati imigrasi untuk pemeriksaan passpor dan fiskal kemudian ke waiting room terakhir menunggu waktu take off.

Di Pesawat

Seperti penerbangan dari Surabaya ke Jakarta, kita akan bercampur dengan penumpang umum dan seat-nya berpencar-pencar. Penerbangan dengan B 747 seri 400 ini akan ditempuh dalam waktu 9 jam, kalau tidak ontime penerbangan akan molor 1 s/d 3 jam dari jadwal. Biasanya kalau berangkat pukul 13.00 WIB maka kita akan tiba di Jeddah pukul 18.00 Waktu Arab Saudi (WAS), Jakarta 4 jam lebih dulu dari waktu Jeddah. Di pesawat kita diberi layanan makan dan minum sesuai standar perjalanan jauh, selimut, head set dan layanan video yang bernuansa Islami.

Di Jeddah

Tiba di King Abdul Aziz Airport (KAAA) Jeddah, di dalam terminal kedatangan dapat dilihat bermacam-macam ekspresi jamaah misalnya mengangkat kedua belah tangan sambil mengucapkan syukur kepada Allah, ada yang bersujud di lantai bandara dan ada yang saling berpelukan tanda bersyukur telah sampai di tanah suci. Pemeriksaan Imigrasi biasanya memerlukan waktu yang lama dan meng-antri panjang. Setelah selesai di imigrasi, kami ambil bagasi yang kemudian dikumpulkan dalam satu troly besar lalu dibawa keluar oleh buruh bandara. Perjalanan selanjutnya dengan bus menuju Madinah Al Munawarah, menapaki jalan tol selama 5 jam sejauh 400 kilometeran. Dalam perjalanan kami dibekali oleh Muttawif (pemandu perjalanan) tentang makna Haji dan Umrah berikut ceritera histori Islam.

Di Madinah

Pada pertengahan malam kami tiba di kota Madinah, kemudian check in di Hotel (100 meter dari Masjid Nabawi). Pelayanan makan malam sudah disiapkan secara prasmanan dengan menu masakan Indonesia. Karena sudah banyak istirahat dalam perjalanan di darat dan di udara, kami tidak tidur lagi sampai menunggu datangnya waktu subuh. Adzan pertama subuh mulai terdengar yang berarti satu jam lagi shalat subuh dimulai. Persiapan mandi dan berpakaian bersih, lalu aku berjalan kaki menuju Masjid Nabawi, diawali shalat sunah Tahyatul Masjid dan Qabliah Subuh kemudian membaca Al Qur’an sampai waktu dikumandangkannya Qamat. Alas kaki seperti sandal bisa disimpan di locker terbuka depan pintu masuk atau ditenteng ke dalam masjid dan disimpan pada rak penyimpan (kedua tempat tadi harus kita ingat nomornya dalam tulisan latin dan Arab) atau sandal dimasukkan ke dalam tas kecil yang kita bawa.

Shalat subuh berjamaah selesai, berzikir dan berdoa kemudian kami ke Raudah yaitu suatu bagian di Masjid Nabawi antara makam Rasulullah SAW dan mimbar masjid, berkarpet hijau muda, luasnya sekitar 150 meteran persegi, berpilar warna putih, bergantung lampu-lampu hias antik, sehingga Raudah seperti Taman Surga dan Raudah merupakan salah satu tempat berdoa yang mustajab. Setelah itu berziarah ke makam Rasulullah dan Sahabat Rasul, Abubakar Ash Shidiq dan Umar bin Khattab kemudian ke makam Baqi. Menuju Raudah, makam Rasul dan Sahabat serta ke Baqi selalu dipadati jamaah sehingga masuknya harus berdesak-desakan, oleh karena itu harus sabar. Tempat ini selalu dijaga Askar-Tentara Kerajaan Saudi dengan senjata lengkap. Kami memanjatkan doa di Raudah, di makam Rasul dan makam Baqi untuk kebaikan diri sendiri dan untuk Rasulullah, Sahabat dan Keluarganya walaupun Beliau semua telah dijamin masuk surga oleh Allah SWT.

Pada musim Haji biasanya para jamaah tinggal di Madinah 8 s/d 9 hari sehingga mereka bisa menjalankan ibadah ‘Arbain’ yaitu shalat berjamaah dengan Imam Masjid Nabawi selama 40 waktu tanpa putus. Shalat Arbain dimaksudkan agar di tanah air khususnya kaum lelaki akan terbiasa menjalankan kewajiban shalat berjamaah di masjid 5 waktu sehari semalam. Disamping itu ganjaran yang diberikan Allah SWT kepada kita bila shalat berjamaah di Masjid Nabawi adalah 1000 kali dibanding kalau kita shalat sendiri. Sedangkan shalat di Masjidil Haram 100.000 kali ganjaran.

Keindahan Masjid Nabawi dapat dilihat dari dekat maupun dari kejauhan, di siang maupun di malam hari, sangat indah, agung dan artistik. Masjid Nabawi mempunyai sekitar 7 menara dengan tinggi 100 meteran, kubah geser dan payung raksasa buka tutup. Di dalam masjid juga disediakan air zam-zam lengkap dengan gelas-gelas plastiknya. Karpet-karpet tebal terhampar indah di dalam masjid, lantai marmer dan granit, begitu juga ada lampu di dinding dan lampu gantung Kristal yang berlapis emas.

Selesai berziarah kami berjalan ke sekitar Masjid Nabawi yang terlihat ramai, banyak orang berjualan di toko dan di pinggir jalan, terlihat juga ada peminta-minta, kuberi mereka sedikit Riyal. Memberi 1 Riyal atau lebih terserah, yang penting ikhlas, karena tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Itulah gunanya bawa Riyal pecahan kecil dimaksudkan untuk shadaqah kepada kaum fakir miskin dan dapat untuk membeli segelas susu teh panas 1SR, sebotol juice mango 1SR, kebab ayam 3SR, kebab kambing 2SR. Aku sempatkan membeli lembaran-lembaran kain beraneka corak (kain Sari India) harganya hanya 5SR, aku beli 25 s/d 30 lembar sebagai oleh-oleh.Toko-toko di sekitar Masjid Nabawi amat ramai setelah subuh, makanan dan minuman panas/dingin semua tersedia, kurma, perlengkapan shalat, elektronik, money changer, perhiasan dan emas permata. Saranku boleh aja kita membeli yang kita suka namun jangan banyak belanjanya daripada ibadahnya he .. 5x.

Sarapan pagi telah tersedia di hotel, ada aneka juice, susu coklat, kue, nasi goreng, aneka ayam basah/kering, kerupuk, aneka buah, zaitun hitam dan hijau semua tersedia dengan cara prasmanan bebas ambil berkali-kali. Saranku pertama jangan berlebihan, berhentilah makan sebelum kenyang dan makanlah sebelum datangnya lapar. Yang kedua jangan sampai kita mati karena kekenyangan (kolesterol dan diabet) sedangkan masih banyak saudara kita yang mati karena kelaparan (memang benar2 tidak ada yang dimakan).

Bagi yang sudah melakukan Umrah namun belum Haji, pada saat berHaji mereka akan kaget begitu jauh perbedaan pelayanan akomodasi dan situasi Makkah-Madinah. Bagi jamaah ONH Plus akan setara akomodasinya dengan jamaah Umrah, namun bagi jamaah ONH biasa sangat jauh beda layanan akomodasinya baik hotel dan makan minumnya. Begitu juga situasi Umrah selain ramadhan relatif sepi jamaahnya namun pada saat musim Haji jamaah membludak sampai ke jalan-jalan. Sebagai gambaran pelayanan ONH biasa fasilitas makan dan minum hanya diberi beberapa kali saja, pada saat di asrama Haji, di Jeddah-Makkah pada hari pertama, pada saat di Armina (Arafah dan Mina) dan di full selama di Madinah (semua diberikan dalam bentuk catering/box). Penginapan bisa di apartemen bisa juga hotel atau rumah-rumah masyarakat Makkah-Madinah, sekamar diisi 4 s/d 10 orang. Pelayanan Umrah selama perjalanan makan dan minum disediakan secara prasmanan 3 x di hari biasa dan 2 x pada saat puasa. Penginapan biasanya di hotel setara bintang 3 keatas, sekamar diisi 2 s/d 4 orang. Namun untuk Umrah Ramadhan sebulan penuh biasanya di apartemen tergantung harga paket Umrahnya.

Dalam hal beribadah di Madinah semua tergantung kita masing-masing, manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk beribadah dan berperilaku baik setiap hari karena ke tanah suci perlu waktu, tenaga dan biaya yang tidak sedikit, maka jangan disia-siakan kesempatan ini. Kebiasaan jamaah berbeda-beda, ada yang setelah shalat subuh kembali ke hotel, waktu shalat dhuhur s/d shalat ashar di Masjid Nabawi kemudian baru kembali ke hotel, kembali lagi menjelang waktu maghrib s/d isya di Masjid Nabawi lalu ke hotel. Untuk beribadah setiap jamaah diberi kebebasan oleh Pembimbing.

Ziarah di sekitar Madinah

Pada hari pertama setelah sarapan pagi, bus sudah stand bye di depan hotel untuk membawa jamaah berziarah. Tempat-tempat yang dikunjungi adalah ke Masjid Quba (masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah di Madinah), Masjid Qiblatain (masjid dengan dua qiblat, sebelumnya ke menghadap ke Palestina setelah itu turun Ayat diperintahkan Allah menghadap Ka’bah), lokasi bekas perang Khondaq, berziarah ke makam Hamzah dekat Jabal Uhud, percetakan Al Qur’an (selesai melihat-lihat percetakan, masing-masing pengunjung diberi 1 buah Al Qur’an tafsir bahasa Indonesia), pasar kurma (aneka kurma ada disini, madu, gula-gula, kismis, kacang arab, buah zaitun kaleng dan aneka coklat). Selanjutnya kembali ke hotel sebelum dhuhur.

Hari Pertama Shalat Tarawih dan Puasa

Menikmati indahnya tarawih dan puasa di tanah suci Madinah sangat kutunggu-tunggu. Hari pertama ramadhan dimulai dengan makan sahur di restoran hotel sekitar jam 3 pagi, setelah masuk waktu imsak aku bergegas menuju Masjid Nabawi untuk shalat subuh. Berzikir, mengaji dan berdoa kulakukan sampai menjelang dhuhur. Shalat ashar kembali di Masjid Nabawi, selepas itu nah ini dia momen yang langka terjadi disini, yaitu para dermawan berlomba-lomba menyiapkan hamparan plastik untuk meletakkan takjil aneka kurma, roti, kopi-teh arab, air zam-zam. Sejumlah hamparan plastik digelar mengikuti alur shaf shalat dan masing-masing ada pemiliknya. Jangan coba-coba merubah-rubah posisi plastik tersebut, mereka akan marah. Menjelang waktu Maghrib, mulai dari halaman masjid para ‘tuan rumah’ mempersilakan dan mengantar jamaah menuju ‘kavling-nya’ untuk berbuka. Dan jangan coba-coba pula merebut tamu dari tangannya, mereka akan marah dan bahkan ada yang sampai berkelahi. Inilah yang kusaksikan betapa mereka begitu memuliakan Bulan Ramadhan berebut memberi sesuatu kepada orang lain untuk memperoleh pahala dari Allah SWT. Sedangkan ironisnya masih banyak terjadi orang yang berebut meminta-minta dan bukannya berebut untuk memberi.

Saat berbuka telah tiba, adzan maghrib telah dikumandangkan, para jamaah mulai membatalkan puasa dengan takjil yang telah tersedia sejak ba’da ashar. Sekitar 15 menitan menikmati berbagai takjil maka para jamaah beserta petugas cleaning service melipat dan memasukkan hamparan plastik ke dalam kantong sampah plastik yang besar, tidak sampai 5 menit semua sudah kembali seperti sedia kala dan shaf-shaf masjid siap untuk dipakai shalat. Sehabis shalat kami kembali ke hotel untuk berbuka puasa sambil menunggu adzan isya (kalau ramadhan diundur 1 jam).

Shalat tarawih dimulai dengan tata cara 2 rakaat 1 salam (tarawih 20 rakaat dan 3 rakaat witir). Surat pertama yang dibaca adalah surat Al Baqarah sampai pada saat akhir ramadhan bacaan surat dalam Al Qur’an selesai (khatam). Biasanya setiap shalat mencapai 10 rakaat ada jeda untuk istirahat sejenak dan menginjak rakaat ke-11 Imam berganti. Pada saat shalat witir rakaat terakhir biasanya diserta doa yang panjang, hal itu terasa nikmat karena bacaannya merasuk ke dalam hati, shalat tarawih selesai sekitar pukul 23 WAS.

Di Makkah

Menuju Makkah kami harus singgah dulu di Bir Ali tempat ‘Miqat’ yaitu batas dimulainya berpakaian ihram untuk melaksanakan Umrah. Kain ihram yang pada umumnya berbahan seperti handuk warna putih wajib dikenakan selama Umrah, terdiri dari 1 helai kain untuk bagian atas dan 1 helai lagi untuk bagian bawah. Kedua helai kain tersebut tidak berjahit dan hanya itu yang dikenakan selama menjalankan Umrah, tidak mengenakan pakaian dalam, tidak pakai penutup kepala dan tidak memakai alas kaki yang menutup penuh permukaan kaki (pelajari perintah2 dan larangan2 Umrah). Dalam 5 jam perjalanan dari Madinah ke Makkah, aku tiba di kota Makkah Al Mukarramah dan tinggal di salah satu hotel dekat Misfalah kira-kira 600 meter dari Masjidil Haram. Tidak seperti Madinah, kota Makkah tidak begitu teratur karena banyaknya bukit-bukit batu di sekitarnya. Setelah dapat kamar aku bergegas melakukan Umrah di Masjidil Haram. Dimulai dengan Tawaf (mengelilingi Ka’bah 7x), Sai (berjalan dan berlari kecil dari Bukit Safa ke Bukit Marwa 7x) kemudian diakhiri dengan Tahalul yakni menggunting sebagian rambut sebagai tanda selesainya Umrah. Perkiraan waktu yang dibutuhkan menjalankan Umrah di bulan ramadhan kira-kira 3 jam.

Menjalankan ibadah shalat di Masjid Nabawi terasa khusuk didukung oleh Masjid yang megah dan adanya makam Rasul, makam Sahabat dan adanya Raudah. Kekhusukan tersebut juga aku dapati di Masjidil Haram dimana ada Ka’bah yang merupakan titik sentral Umat Islam. Jumlah jamaah di Masjidil Haram pada bulan ramadhan amat padat apalagi pada akhir ramadhan terdapat ‘Lailatul Qadar’. Setelah menjalankan Umrah yang utama, hari-hari berikutnya aku melaksanakan Umrah lagi dengan mengambil Miqat di Tan’im kemudian di Ji’ronah. Shalat Tahyatul Masjid di Masjidil Haram biasa diganti dengan tawaf jadi tidak ada shalat sunah tahyatul masjid. Sesekali aku mencium Hajar Aswad, ke Multazam (antara Hajar Aswad dan Pintu Ka’bah), ke Hijjir Ismail dan ke Maqam Ibrahim. Memang Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sama-sama berada di tanah suci yang keduanya mempunyai keistimewaan yang luar biasa. Seperti pula di Masjid Nabawi saat ramadhan, setelah shalat ashar aneka takjil mulai disiapkan, aku berkesempatan membantu petugas menata kurma, zam-zam, teh dan kopi untuk berbuka. Namun pelayanan menjemput dan mempersilahkan jamaah tidak terjadi di Masjidil Haram, jadi kita bebas cari sendiri dimana ada tempat yang kosong ya kita bisa duduk disitu.

Sebagai catatan penting dari pengalamanku ketika pertama kali melihat Ka’bah adalah rasa tidak percaya bahwa Ka’bah telah ada di depan mataku, aku terpaku memandang, hatiku berdebar kemudian tak terasa air mata mulai jatuh membasahi pipi. Luar biasa dan penuh keajaiban, Allah telah menentukan sebagai salah satu tempat penyatu Umat Islam.

Masjidil Haram mempunyai banyak pintu (seratusan pintu) dan masing-masing mempunyai nama misalnya ‘King Fahd Gate’, ‘Pintu Babbusalam’,’Umrah Gate’ dan pintu lainnya. Supaya tidak tersesat hendaknya kita mengenali beberapa patokan di sekitarnya dan selalu membawa kartu identitas Umrah serta mencatat nama-alamat hotel kita. Semua jamaah di Masjidil Haram dalam shalat menghadap ke satu titik yakni Ka’bah, tua muda-pria wanita dan anak anak semua menghadap Ka’bah. Di Masjidil Haram tidak ada batas khusus tempat shalat pria dan wanita namun ada disediakan beberapa tempat khusus wanita. Berbeda dengan Masjid Nabawi, di dalam terbagi dua oleh partisi kiri dan kanan.

Alhamdulillah di Madinah dan Makkah aku merasa nyaman, tenang dan tidak bingung, hal itu diantaranya pertama disebabkan oleh banyaknya saudara-saudara kita di Negara Saudi Arabia, ada yang sebagai pelayan restoran, petugas masjid, petugas hotel, sopir pribadi-umum, petugas di airport dan banyak lagi dengan berbagai profesi tersebar dimana-mana. Yang kedua disebabkan oleh banyaknya pedagang dan pelayan umum yang bisa berbahasa Indonesia sehingga aku disana seakan berada di negeri sendiri.
Ziarah di sekitar Makkah

Di sekitar kota Makkah terdapat tempat-tempat bersejarah dan tempat untuk ibadah yang menjadi saksi sejarah sampai sekarang. Tempat-tempat tersebut seperti gua Hira di Jabal Nur tempat Nabi Muhammad pertama kali menerima wahyu , Jabal Tsur tempat bersembunyinya Rasul dari kejaran musuh, Jabah Rahmah tempat bertemunya Nabi Adam AS. dan Siti Hawa, Arafah tempat wukuf pada musim Haji, Mudzdalifah tempat mabit, Mina tempat melontar jumrah dan Tan’im-Ji’ronah tempat miqat.

Oleh Oleh Umrah

Sudah sangat lazim apabila pulang Umrah membawa oleh-oleh untuk kerabat maupun untuk keluarga. Yang paling umum dibawa adalah air zam-zam, namun biasanya hanya 5 liter sehingga masih dianggap kurang cukup. Pengalamanku membawa air zam-zam adalah pertama membeli jerigen plastik 5 literan 2 buah, harganya @ 5SR, air zam-zam kuisi di kran-kran halaman Masjidil Haram pada waktu-waktu senggang. Jerigen ditutup yang rapat kemudian dibungkus tas plastik 2 lapis lalu di plak ban agar tidak bocor. Satu jerigen nanti dimasukkan ke dalam tas bahu dan yang satu lagi ke dalam ransel kecil. Yang kedua aku membeli 10 liter air zam-zam minta tolong ke room boy lengkap dengan plastik pengaman standar penerbangan, harganya 10SR. Air zam-zam tersebut aku titipkan kepada petugas travel dengan pendekatan personal. Alhamdulillah semua zam-zam tersebut dapat dibawa sampai di tanah air, 5L dari travel, 10L aku bawa ke kabin pesawat dan 10 aku titipkan travel sehingga jumlahnya 25L, alhamdulillah sepanjang tahun aku tidak pernah kekurangan air zam-zam padahal siapa yang memerlukan insyaAllah aku berikan. Untuk bawa zam-zam ke kabin jangan ragu-ragu namun pastikan packingnya baik, masalah nanti di airport dilarang petugas nggak jadi soal, tinggal aja disitu, namun kalau nggak ada masalah ya Alhamdulillah.

Selain air zam-zam, oleh-oleh lain adalah kurma, coklat, aneka tasbih, parfum non alkohol, kacang arab, kismis, apricot, buah/minyak zaitun, buah tien dan masih banyak lagi. Semua itu bisa dibeli di Madinah bisa juga dibeli di Makkah, di Makkah ada di sepanjang jalan antara Hotel Zam-Zam Tower dan Hilton atau di Supermarket Bin Dawood dekat Hilton. Sesungguhnya berbagai aneka kurma dapat kita dapatkan dengan jumlah banyak tanpa membeli karena kurma-kurma tersebut tersedia banyak pada saat buka puasa, namun aku hanya bawa seperlunya saja. Semua barang yang kubawa dari tanah air kumasukkan ke dalam dos termasuk pakaian kotor dll kemudian di-plak ban dan beri nama pakai spidol permanent dan semua oleh-oleh kumasukkan kedalam koper dari travel.

Kembali ke Tanah Air

Setelah hampir dua minggu kami beribadah penuh di Madinah dan Makkah, kami kembali ke tanah air melalui King Abdul Aziz Airport (KAAA) Jeddah by Garuda selama 9 jam menuju Jakarta. Selanjutnya dengan connecting flight dari Jakarta ke Surabaya dan dengan travel menuju Malang. Sesampai di rumah terasa keimananku bertambah (battere terasa full) dan tugasku sekarang adalah bagaimana menjaga keimananku selama mungkin. Demikian sharing-ku untuk sesama.

This entry was posted in Al Hajj and tagged , , , . Bookmark the permalink.