Manajemen Cinta (Idariyatul Mahabbah)

Adakah manusia yang tidak memiliki cinta? Siapakah yang tidak pernah merasakan keindahan dan keajaiban pengaruhnya? Cinta … dia selalu ada selama kehidupan manusia, dan selalu bertolak belakang dengan benci.
Banyak ahli hikmah dan pujangga membicarakannya tetapi tetaplah mereka tidak mampu menyingkap; mengapa cinta begitu indah? Walau kadang dia mengerikan, namun lebih sering membawa senyuman dan rasa rindu ingin kembali merasakannya.
Bisakah cinta itu mengerikan? Ya! Ada manusia membunuh dirinya atau orang lain karena cinta, merampok karena cinta, bahkan perang antar suku dan negara. Bukan cinta yang salah, bukan cinta yang layak dijadikan terdakwa. Tetapi  manusianya, apakah dia yang mengendalikan cinta atau cinta yang justru menguasai dirinya dan membuatnya buta   serta  pendek akal.
Bagi seorang beriman, kita memiliki pegangan dan pedoman dalam ‘bercinta’. Agar cinta itu tumbuh subur menjadi indah dan bernilai ibadah, bukan tumbuh subur liar dan jalang melahirkan dosa.

Macam-Macam Cinta

Islam mengakui adanya cinta dengan berbagai macamnya. Sebagiannya dipuji bahkan diwajibkan, sebagian lain adalah cinta terlarang.

Pertama. Cinta Syar’i.

Ini adalah cinta tertinggi dan mulia yang diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla terhadap hamba-hambaNya yang beriman, yaitu cinta kepada Allah dan syariatNya, RasulNya dan sunahnya, mencintai Jihad dijalanNya ,   serta cinta kepada kebaikan dan pelaku kebaikan. Cinta terhadap mereka tidak boleh dikalahkan oleh yang lainnya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. At Taubah (9): 24)

Inilah cinta mulia yang tidak tergantikan oleh lainnya. Tidak cukup hanya pengakuan di mulut tetapi tidak ada pembuktian. Bukanlah cinta kalimat manis di lisan, tetapi cinta adalah pembuktian dengan perbuatan. Mengaku cinta Allah Ta’ala tetapi sering melupakanNya, melanggar perintahNya, dan melakukan laranganNya. Mengaku cinta RasulNya tetapi asing terhadap sunahnya, tidak mengikuti petunjuknya, dan tidak ada gairah untuk membelanya ketika beliau dihina. Mengaku mencintai jihad dan merindukan mati sebagai syahid (martyr), tetapi tidak pernah mau tahu kondisi umat Islam dan tidak ada niat sama sekali membantu mereka.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah (hai Muhammad): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran (3): 31)

Kedua. Cinta Thabi’i (natural)

Ini adalah cinta tingkatan kedua yaitu cinta yang secara alami ada dalam jiwa setiap manusia. Baik dia muslim atau bukan, perasaan ini ada pada siapa saja. Cinta ini tidak tercela karena memang Allah ‘Azza wa Jalla titipkan kepada hati manusia. Namun, cinta ini tidak boleh melebihi dan mengalahkan cinta syar’i. Di sisi lain, hendaknya kita sederhana terhadapnya tidak berlebihan, karena cinta ini hanya sesuatu yang boleh-boleh saja. Jika cinta ini telah melebihi cinta syar’i, lebih mementingkan ini disbanding Allah dan rasulNya, maka menjadi terlarang sebagaimana ayat di atas. Di sisi lain, cinta thabi’i tidaklah dipuji, sebab dia memiliki potensi melalaikan Allah dan rasulNya.
Contoh cinta ini adalah mencintai isteri, suami, anak, orang tua, saudara, kawan, pekerjaan, kekayaan, makanan, pakaian, tempat tinggal, tanah kelahiran, dan hal-hal yang alami ada di kehidupan manusia secara umum.
Ada pun berbakti kepada kedua orang tua adalah wajib, menghormati saudara sesama muslim adalah wajib, bekerja mencari nafkah halal adalah wajib bagi laki-laki, namun kewajiban  harus dilaksanakan baik dengan cinta atau tidak.  Maka,   mencintai  orang tua, saudara, dan pekerjaan adalah hal lain. Sebab cinta atau tidak kita harus tetap menghormati mereka, dan tetap harus mencari nafkah.

Allah Ta’ala berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali Imran (3): 14)

Ketiga. Cinta fasadi (merusak)

Ini adalah tingkatan terendah dari semuanya yakni mencintai kemaksiatan dan membanggakannya. Tidak malu berbuat buruk, berkata kotor, justru menjadi bagian hidupnya. Judi, mabuk, zina, mencuri, dan menjadi candu yang jika ditinggalkan dia merasa ‘kurang hidup’. Ini merupakan cinta yang rendah dan hina. Saat itu tak ada bedanya manusia dengan hewan, bahkan lebih sesat lagi.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al A’raf (7): 179)

Nah, setelah kita mengatahui macam-macam cinta, kita dapat mengevaluasi diri; pada tingkatan mana cinta kita berada?

Tanda-Tanda Orang Jatuh Cinta (‘Alamatul Mahabbah)

Orang jatuh cinta, sama dengan orang jatuh sakit. Memiliki gejala dan tanda-tanda yang khusus. Orang jatuh cinta kepada apa pun tidaklah akan keluar dari tanda-tanda berikut:

  • Banyak mengingat dan menyebut nama yang dicintai. Setiap momen dan keadaan selalu disebut namanya
  • Mengagumi apa yang dilakukan yang dicintainya itu. Apa pun saja –walau buruk- terasa indah.
  • Ridha terhadap apa yang diperbuatnya. Dia tidak marah terhadap apa yang diperbuat oleh yang dicintainya itu, walau begitu menyakitkan. Apalagi sesuatu yang menyenangkan!
  • Memberikan pengorbanan untuknya. Tidak ada cinta tanpa pengorbanan, bukan hanya uang, nyawa pun siap dikorbankan demi sang kekasih.
  • Takut. Bukan takut sebagaimana dengan hewan buas, tetapi takut jika dia beralih ke lain hati, takut dia pergi, takut dia sudah tidak cinta lagi.
  • Penuh pengharapan. Berharap agar bisa sehidup semati dan selalu ada di sampingnya baik sudah dan senang.
  • Mentaatinya. Apa yang diinginkan sang kekasih akan dituruti walau pun sulit. Semua ini demi cinta!

Lihatlah tanda-tanda ini! Apakah ada dalam diri anda? Jika ada maka anda -diakui atau tidak- sedang mengalami jatuh cinta. Masalahnya adalah kepada siapa cinta itu anda berikan?
Anda sedang mencintai Allah, rasul, dan amal shalih, maka ciri dan tandanya sama dengan di atas.
Anda mencintai harta, tahta, dan wanita/laki-laki, maka ciri dan tandanya sama dengan di atas.
Anda mencintai maksiat dan kejahatan, maka ciri dan tandanya sama dengan atas juga.

Semua pilihan ada di tangan anda, dan akibatnya pun akan kita terima masing-masing sebagai bentuk hak dari apa yang kita putuskan terhadap cinta.

Sesungguhnya dalam satu rongga dada hanya ada satu hati ……………
Dalam satu hati hanya ada satu cinta yang tinggi dan mulia …
Cinta itu hanya kepada Allah, rasul, dan berjuang untuk agamaNya

Wallahu A’lam

Oleh: Farid Nu’man Hasan

This entry was posted in Religion and tagged , , . Bookmark the permalink.