Haji dan Umroh MLM (Multi Level Marketing)

Banyak orang membenci MLM adalah karena faktanya 95% orang yang berbisnis di MLM tidak sukses. Pada dasarnya seluruh peserta bisnis MLM memiliki mimpi untuk sukses dan memiliki kehidupan yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Akan tetapi pada umumnya bukannya memperoleh sukses malah kehidupannya yang justru jauh lebih buruk dibandingkan sebelum mereka bergabung di bisnis MLM. Cerita-cerita kegagalan itulah yang akhirnya mengakibatkan citra bisnis MLM menjadi buruk di mata masyarakat.

JANJI DAN IMING-IMING KESUKSESAN PADA TAHAP AWAL MENJADI ANGGOTA
Pada umumnya kebanyakan bisnis MLM menawarkan berbagai janji bagi calon anggotanya. Janji dan iming-iming kesuksesan inilah yang pada tahap awal dilakukan untuk mempengaruhi anggota baru dan calon anggota, seolah-olah semua kesuksesan tersebut akan sangat cepat dan mudah untuk diperoleh. Padahal pada kenyataannya semua kesuksesan tersebut adalah hasil akhir yang untuk memperolehnya harus melalui proses yang lama dan melelahkan.

Pada awalnya hal-hal tersebut tampak sangat menjanjikan dan mudah untuk dicapai, namun seiring waktu apa yang tampaknya mudah tersebut ternyata sulit untuk dilaksanakan.

Dan saat ini yang sedang marak di masyarakat adalah bisnis Haji dan Umroh MLM (Multi Level Mareketing) atau sistem berantai, banyak cerita sukses pergi haji atau umroh dengan biaya yang murah namun tidak sedikit pula yang gagal meraih mimpi  menunaikan ibadah haji atau umroh karena tidak bisa merekrut sejumlah anggota baru sesuai yang dipersyaratkan oleh travel haji/ umroh MLM sehingga untuk mencegah ekses yang akan timbul dikemudian hari pemerintah melalui Direktur Pembinaan Haji Kementerian Agama Ahmad Kartono mengingatkan masyarakat agar tidak terpikat oleh penyelenggara ibadah haji atau umrah dengan sistem multi level marketing (MLM) atau sistem berantai. Karena sistem yang banyak berkembang belakangan ini memiliki potensi penipuan yang sering dimanfaatkan oknum yang tidak bertanggung jawab.

“Ada pihak yang bisa berangkatkan umrah Rp 2,5 juta, haji Rp 5 juta dengan cara berantai. Ini sama-sama kita berantas,” kata Ahmad Kartono di depan peserta pembekalan dan sosialisasi penyelenggara ibadah haji khusus di Jakarta, Jumat (1/4). Acara ini diikuti 250 peserta mewakili PIHK (penyelenggara ibadah haji khusus) dan pejabat bidang haji Kemenag.

Menurut Ahmad Kartono, minat masyarakat untuk menunaikan ibadah umrah atau haji melalui MLM karena mereka terpikat oleh biaya yang murah dibanding dengan biaya haji atau umrah secara resmi. Padahal dengan cara berantai atau arisan ini lebih banyak orang yang kecewa.

Sementara itu, Ketua Umum HIMPUH (Himpunan Muslim Penyelenggara Umrah dan Haji) Baluki Ahmad menambahkan, saat ini ada pola atau modus baru sebuah biro perjalanan menggaet calon jamaah haji melalui cara MLM. ” Mereka mengumpulkan masyarakat dengan iming-iming biaya murah bisa pergi haji. Padahal travel ini tidak ada izinnya, ini yang harus kita waspadai,” tandasnya.

Baluki juga berharap agar masyarakat untuk tidak terbujuk travel yang menawarkan paket perjalanan haji dan umroh dengan biaya semurah mungkin. Sebab, saat ini sudah tidak masuk akal dengan melihat kondisi eksternal, seperti naiknya biaya penginapan, transportasi dan juga harga minyak mentah dunia.

“MLM seperti money game. Ini masukan kita ke Kementerian Agama. Karena kami diayomi undang-undang, harus dapat perlindungan, jadi MLM jangan dibiarkan,” tandas Baluki.

Ahmad Kartono yang mewakili Dirjen Penyelenggara Haji dan Umrah Slamet Riyanto juga menyampaikan, kuota jemaah haji khusus sebagaimana tahun lalu sebanyak 17.000 orang. “Namun apabila ada tambahan, pemerintah akan mengalokasikan bagi jemaah haji khusus,” katanya.

Ia juga mengingatkan PIHK dalam memberikan pelayanan kepada jemaah haji khusus harus memiliki komitmen, antara lain memberikan akomodasi hotel berbintang 4, katering prasmanan standar hotel, transportasi menggunakan bus syarikah, penerbangan diperbolehkan transit maksimal hanya satu kali, masa tinggal di Arab Saudi maksimal 25 hari, menyediakan pembimbing ibadah dan petugas kesehatan.

“Ini agar jemaah bisa menunaikan haji dengan nikmat bukan malah sengsara,” kata Ahmad Kartono.

Terkait dengan adanya perubahan struktur Ditjen PHU dalam penanganan jemaah haji khusus, Kartonio menjelaskan lingkup koordinasi yang baru yaitu dengan Direktorat Pelayanan Haji menangani urusan pendaftaran dan pembatalan jemaah khusus, Direktorat Pembinaan dan Umrah menangani perizinan, akreditasi, pengawasan dan pengelolaan BPIH. ( Dari berbagai sumber )

This entry was posted in Al Hajj and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.